11 May 2007

Kecanduan Cinta

Oleh Jacinta F. Rini, Msi.
Team e-psikologi

Jakarta, 18 Maret 2002

Istilah kecanduan cinta mungkin bukan istilah yang umum terdengar. Istilah yang sudah umum beredar seperti kecanduan minum, alkohol, narkoba, rokok, kerja, dan lain sebagainya. Meskipun “barang” nya cinta, bukan berarti aman-aman saja bagi pecandunya dan tidak membawa dampak apapun juga. Justru, dampak dari kecanduan cinta ini sama burknya untuk kesehatan jiwa seseorang. Buktiynya, sudah banyak kasus bunuh diri atau pembunuhan yang terjadi akibat kecanduan cinta meski korban maupun pelaku sama-sama tidak menyadarinya...Nah, arikel dibawah ini akan mengulas sekelumit hal-hal yang berkaitan dengan kecanduan cinta.

Kecanduan Psikologis

Di dalam masyarakat sudah banyak sekali kesalahan dalam mempresepsi atau mengartikan cinta sejati dengan cinta yang bersifat candu. Berbagai film, sinetron, aataupun lagu-lagu turut andil dalam menyeru-kan kondisi kecanduan cinta dengan cinta sejati. Contoh ekstrimnya, ada orang yang bunuh diri karena ditinggal pergi kekasih- dan orang menilai bahwa cerita ini mencerminkan kisah cinta sejati.

Tanda-tanda

Pada umumnya individu yang mengalami kecanduan cinta menunjukan tanda-tanda:

  1. Adanya pikiran obsesif, misalnya terus menerus curiga akan kesetiaan pasangan, cterus manerus takut ditinggalkan dengan pasangan sehingga selalu ikut kemana pun perginya sang kekasih/pasangan.
  2. Selalu menuntut perhatian dari waktu kewaktu, tanpa ada toleransi dan pengertian
  3. Manipulatif, berbuat sesuatu agar pasangan mengikuti kehendaknya/memenuhi kebutuhannya, misalnya: mengancam akan memutuskan hubungan jika mementingkan hobinya.
  4. Selalu bergantung pada pasangan dalam segala hal, apa pun juga, mulai dari meminta pendapat, mengambil keputsan sampai dengan memilih warna pakaian.
  5. Menuntut waktu, perhatian, pengabdian dan pelayanan total sang kekasih/pasangan. Jadi, pasangan tidak bisa menekuni hobinya, jalan-jalan dengan teman-teman kelompoknya, atau bahkan memberikan sebagian waktunya untuk orang tua/keluarga.
  6. Menggunakan sex sebagai alat untuk mengendalikan pasangan.
  7. Menganggap sex adalah cinta dan sarana untuk mengekspresikan cinta.
  8. Tidak biosa memutuskan hubungaan meski merasa amat tertekan “berharap” pada janji-janji surga pasangan.
  9. Kehilangan salah satu hal terpenting daalam hidup, misalnya pekerjaan atau /keluarga inti demi mempertahankan hubungan.

Jadi, tidak ada istilah “puas” dalam setiap hubungan yang terjalin antara orang yang kecanduan cinta denan pasangan; ibaratnya seperti mengisi gelas bocor yang tidak bisa penuh jika diisi, karena begitu airnya dituang lantas langsung keluar lagi dan airnya tidak pernah luber. Demikian juga oranga kecanduan cinta, mereka tidak pernah mampu membagikan cinta secara tulus pada orang lain kerena selalu merasa kehausan cinta. Oleh sebab itu, banyak diantara mereka yang sering berganti pasangan karena merasa harapan mereka tidak dapat dipenuhi sanga kekasih. Padahal meski puluhan kali mereka berganti pasangan, individa yang kecanduan cinta akan sulit membangun hubungan yang stabil dan abadi. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak sadar, bahwa sumber masalah justru ada pada diri sendiri – mereka lebih sering menyalhkan mantan-mantan kekasihnya/pasanganya.

artikel ini di ambil dari: www.e-psikologi.com

1 comment:

  1. uwh...... mantep pisan!
    mau dong nyandu ajarin gimana caranya/

    ReplyDelete

komentar